Selasa, 09 Agustus 2016

Pendidikan Sehari Penuh


Banyak orang langsung marah-marah dan membully Mendikbud Muhadjir Effendi yang menganjurkan pendidikan sehari penuh untuk anak sekolah SD dan SMP. Secara garis besar Mendikbud berkata bahwa alasan gagasan full day school ini adalah agar anak-anak secara perlahan karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang kerja.

http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/08/12462061/ini.alasan.mendikbud.usulkan.full.day.school.
 

 
Banyak pro dan kontra thd ucapan mentri yang baru menjabat 2 minggu ini. Kebanyakan kontra. Baik, kita pisahkan saja


Secara umum dan spontan, kebanyakan orang akan menolak. Apalagi jika memposisikan diri sebagai anak-anak yang masih punya kebutuhan tinggi akan bermain. Baik bermain bersama teman ataupun bermain sendiri, Saya termasuk kedalam kelompok ini. Lagipula tidak semua orang tua adalah pekerja 'full time'. Dan tidak semua pekerja 'full time' juga yang jadwal pulangnya bisa sama dengan jam anak sekolah, seperti misalnya yang bekerja di pusat perbelanjaan atau pabrik yang memiliki sistem kerj 3 shift. Apalagi ada orang tua yang jelas-jelas tidak bekerja salah satunya. Dan seharian disekolah tidak menjamin bisa memenuhi kebutuhan psikologis bermain ini. Apalagi sistem pendidikan di Indonesia yang selalu mengandalkan ilmu 'hafalan'.

Ini bisa dimengerti.

Tapi ada juga yang kelihatan setuju, walaupun bukan karena alasan kedua orangtua bekerja sih. Alasannya adalah memang pendidikan full day sudah lama diterapkan pada pesantren atau boarding school. Sistem seperti ini dianggap mampu menciptakan anak muda yang sangat mandiri dan kreatif.

Ini juga bisa dimengerti.

Yang sulit dimengerti adalah orang-orang yang lantas marah-marah dan membully. Daripada marah-marah, lebih baik memberi kritik. Kritik itu bagus. Menurut Pak Muhadjir sendiri, kritikan masyarakat terhadap idenya menandakan bahwa masyrakat kita saat ini sudah tanggap dan peduli kepada pemerintah dan sistemnya. Kritik bisa sangat membangun apabila dikeluarkan sekalian dengan opsi-opsi solusi untuk masalah yang terjadi.

Misal jika merasa anak akan kurang mandiri, saya rasa cukup dengan menyekolahkan anak di sekolah yang dekat-dekat saja dari rumahnya. Biarkan si anak berangkat dan pulang sekolah sendiri. Dengan berjalan kaki atau maksimal bersepeda. Menyiapkan perlengkapan sekolah juga dikerjakan sendiri dari malam sampai paginya. dan lain-lain. Adapun, tugas pemerintah adalah membuat semua sekolah di seluruh Indonesia menjadi sekolah favorit, sehingga tidak ada anak yang harus sekolah jauh-jauh demi mendapatkan pendidikan yang terbaik.


Mungkin masih banyak opsi solusi lainnya. Coba kita semua warga negara Indonesia bersama-sama berfikir untuk memajukan bangsa ini dengan mengedepankan akal dan mengebelakangkan emosi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar